Oleh : Marso. Mahasiswa semester III Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berbagai aktifitas mahasiswa dalam kancah pergerakan nasional yang dilandasi oleh moral force (kekuatan moral) telah tercatat dalam sejarah Indonesia. Banyak sekali kiprah mahasiswa yang telah menorehkan tinta emas bagi perjuangan bangsa. Dimulai dengan pergerakan Boedi Oetomo tahun 1908, kemudian dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda tahun 1928, dan puncaknya pada tahun 1945 dimana mahasiswa pada masa itu memegang motor kendali bagi terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.Tak cukup sampai disitu, pasca proklamasi kemerdekaan mahasiswa masih tetap memegang idealismenya yang tinggi untuk tetap membela kepentingan rakyat. Hal itu dibuktikan dengan peristiwa jatuhnya orde lama pada tahun 1966. Mahasiswa terus melakukan tugasnya yaitu mengawasi jalannya pemerintahan yang berlangsung. Mereka tetap setia kepada bangsa dan negara. Mereka tidak akan rela jika tanah air mereka digadaikan. Mereka akan tetap berjuang walaupun jiwa-raga menjadi taruhannya. Tergulingnya rezim Orde Baru yang ditandai dengan mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan pada 21 Mei 1998 adalah salah satu bukti perjuangan mereka yang tak kenal menyerah dan tetap fanatik dengan gelar kemahasiswaannya serta jabatan sosial yang dipegangnya. Meskipun saat itu banyak elemen masyarakat pro reformasi yang terlibat aktif, namun sekali lagi mahasiswa masih menjadi ujung tombak bagi perjuangan bangsa. Secara moralitas mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di masa depan. Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintah dan memberikan kritik atas setiap kebijakan yang dibuatnya. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani mereka, bukan atas keterpaksaan maupun intimidasi dari pihak luar. Segala sesuatu yang mereka perjuangkan adalah sesuatu yang mereka yakini adalah baik untuk kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Hal tersebut berlaku dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap kritis mahasiswa tidak harus pada isu-isu nasional tapi dapat juga kritis pada isu-isu lokal seperti pencemaran lingkungan, kebijakan pemerintah setempat yang dirasa merugikan masyarakat kecil, tindakan sewenang-wenang pemerintah setempat pada masyarakat kecil, penyelewengan anggaran keuangan oleh pemerintah setempat, ataupun perihal lainnya. Sebagai pengusung moral force, mereka harus mengingatkan pemerintah jika pemerintah tersebut menyeleweng ataupun lupa pada tugas yang diembannya. Ada
lima hal yang melatarbelakangi penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang ujungnya bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat, yaitu :

Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat.

Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.

Ketiga, kehidupan kampus membentuk
gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka.

Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda.

Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya. Bila kita amati dengan seksama, mahasiswa mempunyai kedudukan yang sangat unik yaitu sebagai kaum yang diterima oleh semua lapisan masyarakat dan mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Keberadaan tersebut juga didukung oleh karakteristik mahasiswa yang rata-rata masih berusia muda, penuh semangat, dinamis dan tidak takut kehilangan sesuatu yang merusak idialisme dirinya. Karena itulah di lingkungannya mahasiswa sering dikatakan sebagai “intelektual sejati”. Ketika harus terjun ke masyarakat, mereka dapat dengan mudah berbaur, dan ketika harus berurusan dengan kaum birokrat, mereka mampu mengimbangi dengan kemampuan intelektual dan pendidikan yang telah diterimanya selama ini. Oleh sebab itu, mereka berperan strategis dalam kehidupan berbangsa yaitu sebagai penerus cita-cita bangsa. Kehidupan di kampus adalah miniatur kehidupan bangsa, dimana di dalamnya juga terdapat keanekaragaman sosial dan budaya. Mahasiswa telah mengarungi kehidupan kampus yang cukup kompleks tersebut. Dan mereka telah bersosialisasi dan mampu beradaptasi sehingga tetap eksis di lingkungannya. Mereka juga telah mendapatkan pendidikan akademis dan politik yang lebih dibandingkan dengan generasi muda yang lainnya sehingga menempatkan mereka pada golongan elit pemuda. Namun hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, tapi suatu pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, loyalitas, pemikiran, dan kesabaran yang tinggi. Namun bukanlah keberhasilan yang akan didapat jika hanya mahasiswa yang berjuang di negeri ini. Mahasiswa tetap membutuhkan dukungan dari rakyat untuk menjalankan tugasnya, karena komponen terbesar negeri ini adalah rakyat, dan mahasiswa hanyalah sebuah komponen kecil. Perjuangannya akan sia-sia jika tak mendapat dukungan orang-orang yang dibelanya. Karenanya mahasiswa harus tetap mempertahankan kredibilitas dan legitimasi di mata rakyat agar rakyat selalu mendukung setiap langkah yang ditempuhnya. Harus diakui bahwa selama ini peran mahasiswa sebagai moral force hanya sebatas pendobrak yang selanjutnya diserahkan kepada kaum politisi. Mahasiswa seperti memberikan sebuah cek kosong yang dapat diisi seenaknya oleh kaum politisi sehingga mereka tidak mampu melakukan kontrol atas cek yang diberikannya. Jika mereka ingin berperan lebih dari itu, mereka harus menyiapkan suatu konsep pemikiran mereka sebagai isi dari cek yang diberikan agar mereka mampu melakukan kontrol pada kaum politisi tersebut. Namun yang diberikan bukanlah sekedar konsep biasa, tetapi sebuah konsep yang mampu menjawab seluruh kebutuhan dan tantangan bangsa. Dan saat ini yang dibutuhkan bangsa adalah sebuah konsep yang mampu membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan krisis multidimensi dan intimidasi kekuasaan menuju ke suatu titik pencerahan. Namun, selama ini yang kita lihat, realita tidaklah seindah bayangan kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan tanggung jawabnya sebagai pengemban amanah rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar. Bila hal ini dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin perjuangan mahasiswa di masa mendatang tak lain hanyalah sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya, atau sekedar katak di dalam tempurung. Mahasiswa harus segera berbenah untuk menyolidkan dirinya, karena mahasiswa bukanlah milik segelintir orang yang peduli pada nasib bangsa, tapi lebih dari itu.

Segala sesuatu yang besar adalah dimulai dari yang kecil. Adalah sebuah omong kosong jika dalam tubuh mahasiswa sendiri belum solid tapi sudah berkeinginan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik. Bangsa bukanlah hanya segelintir orang, tapi bangsa adalah terdiri dari banyak orang dengan beragam kondisi sosial dan budaya. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan mahasiswa adalah membenahi kondisi internal dalam dirinya, menyolidkan barisan, menyamakan visi, misi dan idealisme, serta menghimpun kekuatan. Baru setelah itu mereka dapat membuat impian untuk menjadikan bangsa menuju kehidupan yang lebih baik dan mewujudkannya dalam sebuah realita.   wallohua’lam bishshowab.

Diskursus mengenai relasi antara kaum cendekiawan dan politik secara garis besar melahirkan dua perspektif yang berseberangan. Perspektif pertama menempatkan cendekiawan yang terjun ke dalam politik sebagai ‘makhluk terkutuk’. Sedangkan perspektif kedua menempatkannya ke dalam kategori ‘makhluk harapan’. Kaum cendekiawan ini bisa diharapkan mendekati kriteria yang oleh Aristoteles disebut sebagai raja filosof (the philosopher king).Julian Benda (1867-1956), seorang filosof Perancis yang menulis La Trahison des Clercs (pengkhianatan kaum intelektual) menganggap bahwa cendekiawan yang terlibat dalam politik adalah cendekiawan yang telah melakukan pengkhianatan. Menurutnya, seorang cendekiawan tidak boleh mengabdikan diri pada kepentingan politik yang di dalamnya terdapat perhitungan tersembunyi untuk kepentingan diri sendiri. Kaum cendekiawan harus mempertahankan nilai-nilai universal dan abadi yang berlandaskan kebenaran dan rasio yang dimiliki dalam setiap konteks waktu dan tempat.Dalam pandangan Benda, cendekiawan ideal adalah cendekiawan yang tidak mengejar tujuan-tujuan praktis. Pemikiran Benda ini dilatarbelakangi oleh pandangan yang mempertentangkan antara realitas dan idealitas. Menurutnya, seorang cendekiawan adalah seorang yang idealis, sedangkan politikus adalah seorang realis.Berbeda dengan Benda, Gramsci memandang bahwa cendekiawan yang mengambil jalan politik dengan tujuan-tujuan yang baik, bisa masuk dalam kategori intelektual organik. Nilai yang dilekatkan pada intelektual organik ini adalah nilai positif. Mereka dianggap sebagai kelompok individu yang tidak hanya bergelut dengan renungan dan kontemplasi untuk melahirkan kerangka konseptual, tetapi juga mengaplikasikan konsep-konsep tersebut dalam dataran konkret.Perspektif pertama sekarang lebih kuat daripada perspektif kedua; bahkan bisa dikatakan menjadi mainstream, baik di kalangan cendekiawan sendiri, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam. Kaum cendekiawan, dalam mainstream ini, lebih diharapkan menjadi orang-orang netral, sehingga dapat menjadi penjaga moral bangsa dan menjadi tempat meminta pertimbangan ketika terjadi konflik politik. Politik juga dianggap sebagai wilayah kotor, sehingga kaum cendekiawan eloknya menjauhi politik.

Penegativan atas Politik

Patut diwaspadai bahwa paradigma ini sengaja dihembuskan oleh mereka yang mempunyai niat menjadikan politik sebagai tujuan. Dengan tidak adanya kaum cendekiawan yang masuk dalam politik, maka kompetitor mereka akan berkurang. Dengan demikian, tujuan mereka untuk menjadikan politik sebagai kuda tunggangan untuk memuluskan tujuan-tujuan jangka pendek dan bersifat individual akan lebih mudah dan cepat tercapai.Keengganan kaum cendekiawan masuk dalam politik disebabkan pandangan bahwa politik adalah kotor merupakan indikasi bahwa kaum cendekiawan tersebut telah terjebak pada kedangkalan berpikir dan terseret dalam propaganda politisi pragmatis. Atau bisa jadi bahwa itu merupakan apologi semata karena mereka telah berhitung; andai mereka masuk ke dalam politik, maka mereka tidak akan mampu memenangkan kompetisi, karena saat ini politik yang secara prosedural tampak demokratis, tidak membudayakan tradisi meritokrasi sehingga berhasil dikuasai kelas pemilik kekayaan. Kaum cendekiawan yang sejak awal memang tidak mengorientasikan hidupnya untuk mengumpulkan kekayaan, tentu akan kalah jika dikompetisikan dengan pemilik modal untuk memperebutkan posisi politik.Kaum cendekiawan harus bersikap objektif dan konsisten dalam bersikap dengan keobjektivan itu. Kalau toh saat ini politik adalah wilayah kotor, itu sesungguhnya bukan karena hakikat politik yang kotor, tetapi karena dimainkan oleh mereka yang bertujuan kotor. Seharusnya kaum cendekiawanlah yang bertugas mengambil peran dalam memainkan langgam politik, sehingga politik tidak lagi menjadi wilayah yang kotor, dan sebaliknya menjadi medan garapan yang sangat bermanfaat bagi perbaikan kehidupan rakyat.Kaum cendekiawan tidak boleh hanya berpangku tangan melihat realitas politik yang sekarang ini dipermainkan hanya untuk media memuluskan agenda-agenda jangka pendek. Cendekiawan sebagai pemilik wawasan memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan wawasan tersebut secara praktis guna perbaikan kehidupan rakyat. Mereka berkewajiban memberikan contoh praktik kompetisi sehat yang dilambari dengan prinsip-prinsip kebijaksanaan dan kedewasaan.Cendekiawan sebaiknya juga tidak terlalu mengagung-agungkan netralitas, jika netralitas ternyata tidak berimplikasi positif dan signifikan bagi kebaikan rakyat. Netralitas seringkali hanya dijadikan sebagai lubang persembunyian bagi kaum cendekiawan agar tidak berbenturan dengan para pihak, bahkan mereka yang berniat buruk sekalipun. Mereka ingin bermain aman dan sekadar disukai oleh banyak orang. Bahkan sikap netral itu seringkali dijadikan batu landasan untuk melompat setinggi-tingginya menaiki tangga posisi politik. Bukti ini tidak kurang dengan tampilnya orang-orang yang sebelumnya berkonsentrasi dalam organisasi sosial keagamaan kemudian mencalonkan diri sebagai pajabat publik, baik presiden maupun wakil presiden.

Pengambil risiko

Yang diperlukan adalah cendekiawan yang berani mengambil risiko, bukan penghindar risiko. Politik memang mengandung cukup banyak risiko. Karena itu, apa jadinya jika orang yang memiliki wawasan cukup ternyata tidak memiliki keberanian untuk menghadapi risiko? Cendekiawan pengambil risiko diharapkan dapat menjadi lokomotif bagi perubahan sebuah bangsa. Jika seorang cendekiawan memiliki banyak teman, tapi tidak berbuat apa-apa, ia hanya akan berada di puncak menara gading. Tidak ada kontribusi riil dan signifikan bagi perbaikan kehidupan rakyat. Cendekiawan pengambil risikolah yang berpeluang meraih sukses dalam memberikan konstribusi riil ketimbang penghindar risiko. Jalan politik harus diakui memiliki implikasi yang sangat besar dalam kehidupan rakyat karena melalui politiklah dihasilkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat. Politikus yang memiliki wawasan kecendekiaan tentu akan lebih produktif dalam menghasilkan gagasan mendasar sebagai jalan bagi pelaksanaan kehidupan kenegaran yang berorientasi kepada kabaikan kehidupan rakyat. Pemimpin yang memiliki lambaran kecendekiaan, akan mampu memandang masalah kenegaraan secara lebih komprehensif dan integral. Sekali lagi, risiko dalam politik memang selalu ada. Tidak sedikit pemimpin politik yang dipenjara. Kalau mereka takut penjara, maka mereka tidak akan pernah menjadi pemimpin.Cendekiawan yang berpangku tangan melihat politik dikuasai oleh para medioker, adalah cendekiawan yang tidak terpanggil oleh kecendekiaannya karena tertutup oleh katakutan sendiri. Kecendekiaan idealnya melahirkan panggilan kepada kaum cendekiawan untuk terlibat secara langsung dalam melakukan perubahan sosial dan politik menuju kepada yang lebih baik dengan segala risikonya. Ikhtisar- Masuknya kaum cendekiawan ke kancah politik telah menuai kontroversi.
Ada yang mendukung ada yang menentang. – Citra bahwa politik adalah kotor, sebenarnya sangat memerlukan sentuhan kaum intelektual supaya berubah menjadi politik adalah baik. -
Para cendekiawan tidak perlu takut menghadapi risiko dianggap tidak netral jika ikut berpolitik. Netralitas yang tidak berimplikasi baik bagi rakyat, tak perlu diagungkan. – Aktivitas politik yang kental diwarnai intelektualitas, akan lebih produktif dalam memperbaiki kondisi masyarakat.

Marso. 

- Mahasiswa semester II Pend.Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo.- Sekretaris FMMP

FMMP : Dakwah adalah ajakan seorang muslim kepada orang lain, baik sesama muslim maupun non muslim, untuk mengikuti perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana firman-Nya,

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS An-Nahl 16:125)Dakwah adalah sesuatu yang melekat pada diri muslim sehingga tidak ada alasan sedikitpun bagi seseorang, yang bahkan hanya memiliki sedikit pengetahuan yang benar dan bermanfaat, untuk menghindar dari tugas-tugas dakwah sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

”Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)Dakwah dapat dilakukan dengan lisan, tulisan, perbuatan, atau sikap keteladanan. Dakwah juga dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok, melalui organisasi sosia, partai politik, dan organisasi negara. Dakwah dapat dilakukan kepada keluarga sendiri, orang-orang di dalam negeri, di luar negeri, dan yang terpenting terhadap diri sendiri. Sedemikian luasnya arti komitmen kepada dakwah, sampai-sampai Rasulullah SAW merumuskan esensi Islam dari aspek ini. Sabdanya,

”Agama adalah nasihat.” Ibnu Aus dan para sahabat bertanya, ”Bagi siapa ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW, ”Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemuka muslimin serta rakyat mereka.” (HR.Muslim). Jabir bin Abdullah RA berkata, ”Aku berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk tetap shalat,  membayar zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Pahala orang berdakwah demikian besarnya dan tak dapat ditimbang dengan ukuran-ukuran material sehingga yang menjadi ukuran keberhasilan dakwah adalah upayanya itu sendiri serta hidayah orang-orang yang mau menerimanya. Berjihad adalah dakwah, tetapi berjihad bukanlah untuk mengharapkan ghanimah, meski pengorbanan harta telah demikian besar dikeluarkan.

Ali bin Abi Thalib RA yang diamanahi memimpin Perang Khaibar ketika menerima panji-panji bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya Rasulullah, apakah mereka langsung diperangi sampai mau (masuk Islam) seperti kami?”Rasulullah SAW bersabda, ”Berlaku tenanglah sampai di kawasan mereka, lalu dakwahilah mereka kepada Islam dan kabarkanlah mereka hal-hal yang wajib mereka lakukan atas hak-hak Allah. Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewat dakwahmu, maka yang demikian itu lebih baik bagimu, melebihi hasil ghanimah besar yang terdiri dari hewan ternak terbaik.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Perubahan ke arah perbaikan: Esensi hasil dakwah.

Perubahan adalah tema utama dari proses yang dikelola dalam kerja-kerja dakwah, sebagaimana firman Allah SWT,

“…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d 13:11).

Perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat atau negara tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada individu-individu, sehingga dakwah Islam adalah dakwah yang ditujukan kepada hati-hati dari individu itu.Tidak sekadar perubahan-perubahan yang bersifat permukaan, sedangkan inti di dalamnya tidak terjadi perubahan apa pun. Perubahan yang hakiki itulah yang dicari dalam dakwah Islam.Kedatangan Ali bin Abi Thalib RA ke Khaibar bukanlah sekadar untuk mengubah agama mereka sehingga mereka memeluk agama Islam dengan terpaksa dan penuh ketakutan. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan lebih dahulu untuk memberikan pengertian kepada mereka sehingga perubahan yang hakiki diharapkan terjadi. Perubahan yang semu bukanlah sebuah fenomena yang menjadi target dalam dakwah, sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya,

”Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat 49: 14).

Dalam kaitan mengukur terjadinya perubahan ini, agar tidak terjebak ke dalam fatamorgana perubahan, seorang dai harus sungguh-sungguh memiliki pengetahuan tentang indikator-indikator perubahan yang benar. Dengan bekal ini ia tidak akan merasa puas dengan hasil.  Hal itu pula yang menjadikan Hanzhalah Sang ’Ghaiil Al-malaikat’ segera merespon panggilan jihad, meski ia baru menikmati malam pengantin dan belum sempat mandi hadats besar.perhatikan pula respon ’Umair Ibn Al-Humam r.a. tatkala beliau mendengar sabda Rasulullah SAW,

”Quumuu ilaa jannatin ’ardhuhas-samaawaatu wal-ardh” (Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi). Beliau mengucapkan kata ”bakh-bakh” (ungkapan takjub terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang sedang dikunyahnya sambil berkata, ”La-in ana hayyiitu hattaa aakula tamaraatii haadzihii inaahaa lahayatun thawiilah” (Jika saya hidup sampai selesai memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga)). Lalu beliau maju hingga gugur di perang Badar. (HR. Muslim, dalam Riyadhus Shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1314).

Atau seperti Imam Al-Banna yang berangkat menunaikan tugas dakwah meskipun anaknya terbaring sakit. Beliau meyakini bahwa setelah usahanya optimal untuk mengobati putranya, Allah SWT yang diharapkan ridha-Nya dalam menunaikan tugas dakwahnya, tidak pernah akan mengecewakan dirinya.Akhil ’aziiz, ruhul istijabah juga muncul karena pemahaman kita tentang qadhaya ummah (fahmul qhadaya) dan tanggung jawab (ruhul mas’uliyyah) kita untuk mencari solusinya. Orang yang tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya, sangat sulit kita harapkan responnya untuk menghindari apalagi menghilangkan bahaya tersebut. Imam Syahid Hasan Al-Banna bahkan menghendaki agar setiap al-akh memiliki kepekaan perasaan (daqiiq asy-syu ’uur), bukan sekadara pengetahuan teoritis, tetapi harus menjadi kepekaan perasaan yang membuatnya tersentuh bahagia dengan kebaikan, dan terluka karena keburukan dan kebatilan. Bukankah dakwah adalah upaya kita menegakkan al-haq dan menghancurkan kebatilan?Sifat daqiiq asy-syu ’uur dan ruuhul mas’uuliyyah berarti mengharuskan kita untuk selalu berinteraksi dengan qhadhaya ummah dan terus memahaminya tanpa menunggu orang lain memahamkannya untuk kita. Sifat ini juga seharusnya membuat respon kita menjadi spontan dan penuh energi sehingga melahirkan kekuatan dahsyat, betapapun lemahnya kondisi fisik.Lihatlah, bagaimana Al Qur’an menceritakan kemampuan Maryam AS, ibunda Isa AS, menggoyang batang pohon kurma sehingga buahnya berjatuhan ketika beliau dalam keadaan lemah tak berdaya, semata-mata karena rasa tanggung jawabnya akan kelahiran dan keselamatan putranya yang akan mengemban risalah dakwah?(periksa QS 19:22-25).

Ikhwah fillah, beban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Kita patut meneladani mujahidin Palestina yang tidak pernah mengendor semangat dan aktivitas jihadnya meskipun perjalanan panjang telah melewati dan terus menanti mereka. Juga, meskipun kesulitan hidup, bahkan tekanan bertubi-tubi terus menghantam. Yakinlah bahwa kebersamaan kita dengan Rasulullah SAW, shiddiqin, syuhada, dan shalihin di surga – insya Allah – ditentukan oelh sejauh mana kita meneladani mereka dalam kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Ingatlah selalu kecaman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang munafik yang selalu mencari-cari alasan (tafannun fil ’udzr) untuk menghindar dari kebutuhan berdawkkah dan berjihad (lihat QS At-Taubah 9:94).Tadabburi pula ayat lainnya di dalam surat at-taubah, terutama ayat 41-47, yang mengungkapkan kemalasan dan keengganan mereka agar kita senantiasa terhindar dari sifat-sifat mereka.

”Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah 9:24)

Wallahu a’lam.

Assalamu’alaikum wr.wb. 

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga tercurah kepada imamnya orang-orang yang bertakwadan panglimanya para mujahidin yaitu junjungan kita Muhammad SAW, Nabi yang terpercaya. Semoga tercurah pula kepada keluarga sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. 

Setiap perjuangan islam selalu membutuhkan langkah awal yang benar, sebab dengan langkah awal yang benar perjuangan akan terus berkembang, meski jalan yang ditempuh sangat panjang berliku. 

Diantara ciri sebuah awal yang benar adalah bahwa ia mengambil seluruh sebab, kemudian setelah itu  atau sebelumnya bertawakkal kepada pencipta segala sebab. Maha benar Alloh dengan firman-Nya :“ Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya diatas dasar takwa kepada Alloh dan keridlaan-Nya itu yang baik, atau orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke neraka jahannam? “ (QS.At-Taubah 9:109) 

Sebuah permulaan yang benar pasti menentukan terlebih dahulu sasaran dan karakter pribadi muslim yang di butuhkan dalam perjuangan islam masa kini. Dan kehadiran FMMP ditengah hiruk pikuknya permasalahan global ini kiranya dapat menutup kebutuhan tersebut. Semoga saja……………… 

Wassalamualaikum wr.wb. 

Oleh: Admin FMMP